Share this post

Hipertensi pulmonalis atau hipertensi paru adalah suatu kondisi dimana tekanan di dalam pembuluh darah yang berasal dari jantung menuju ke paru-paru sangat tinggi. Dimana tekanan di pembuluh darah tidak normal, yaitu pembuluh arteri yang biasanya mensuplai darah menjadi tertekan dan hal ini menyebabkan tekanan darah di pembuluh darah menjadi meningkat. Dan mengakibatkan darah sulit untuk melewati paru-paru, sehingga jantung harus bekerja lebih cepat untuk mengurangi tekanan tersebut.

Hipertensi pulmonalis dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :

  1. Hipertesi pulmonalis, adalah hipertensi pulmonal yang tidak dapat di ketahui penyebabnya.
  2. Hipertensi pulmonalis sekunder, adalah hipertensi yang disebabkan oleh kondisi medis seperti cacat bawaan pada jantung, penyakit yang berhubungan dengan jariangan, HIV dan lain-lain.

Gejala awal dari penyakit hipertensi pulmonalis tahap awal ini hampir mirip dengan kondisi-kondisi lainnya, sehingga sangat sulit di kenali maupun di deteksi. Namun  ada gejala  umum  yang biasanya timbul ketika seseorang terkena penyakit ini, diantaranya :

  1. Kelelahan
  2. Pusing yang mengakibatkan pingsan
  3. Nyeri pada dada sepeti tertekan, biasanya pada bagian depan
  4. Badan menjadi lemas
  5. Kaki dan pergelangan menjadi bengkak
  6. Kulit atau bibir menjadi kebiruan
  7. Batuk berdahak
  8. Meningkatnya ukuran perut

Early Critical Illness (Early Cl) – Dalam hal ini Allianz memberikan manfaat dari Pertanggungan tambahan CI 100 dan memberikan pertanggungan 100 penyakit kritis, yaitu :

Hipertensi Pulmonalis Tahap Awal

Hipertensi Pulmonalis primer dengan adanya pembesaran ventrikel kanan yang mengakibatkan ketidakmampuan fisik permanen sesuai dengan kelas III dari Classification Cardiac impairment the New York Heart Association (NYHA) Classification. Diagnosis harus didukung dengan pemeriksaan kateterisasi jantung yang ditegakkan oieh dokter spesialis jantung.

Klasifikasi NYHA dari Kelainan Jantung; (Sumber: “Current Medical Diagnosis dan Treatment —39th Edition”):

Kelas l:  Tidak ada keterbalasan dalam melakukan aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang biasa tidak menyebabkan  kelelahan, sulit bernafas dan nyeri dada.

Kelas II: Adanya sedikit keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang biasa dapat menimbulkan gejala.

Kelas III:  Adanya keterbatasan bermakna dalam melakukan aktivitas fisik. Merasa nyaman pada                                    saat beristirahat, namun pada saat melakukan aktivitas fisik ringan menimbulkan gejala.

Kelas lV:   Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas fisik apapun tanpa keluhan. Gejala dapat                     timbul pada saat beristirahat sekalipun.

Untuk informasi lebih lanjut tentang gejala penyakit kritis lainnya bisa sahabat satuters ikuti informasi dari Agen Allianz Jakarta atau dengan langsung menghubungi Agen Allianz di sekitar wilayah sahabat satuters.

HP/WA : 081212188110 

Related Post

FEBRUARY 18, 2019

Apa Itu Penyakit Full...

Apa Itu Penyakit Full Blown AIDS, Berbahayakah Bagi Manusia? – Tak banyak orang...

0

FEBRUARY 17, 2019

Penyakit Sapi Gila Akibat...

Penyakit Sapi Gila Akibat Gangguan Pada Otak Yang Terkena Infeksi – Penyakit...

0

FEBRUARY 16, 2019

Ciri-ciri Penyakit Kaki Gajah...

Ciri-ciri Penyakit Kaki Gajah Yang Terjadi Pada Seseorang – Penyakit kaki gajah...

0

FEBRUARY 15, 2019

Perbaikan Tulang Belakang...

Perbaikan Tulang Belakang Yang Melengkung Dengan Operasi Scoliosis Idiopatik –...

0

FEBRUARY 14, 2019

Daya Tahan Tubuh Sering...

Daya Tahan Tubuh Sering Menurun? Waspada Tuberkulosis Meningitis...

0

FEBRUARY 13, 2019

Struktur Tulang Menjadi Rapuh...

Struktur Tulang Menjadi Rapuh Akibat Penyakit Osteogenesis Imperfecta –...

0